Ibadah-ibadah yang Dianjurkan di Hari Jum’at

http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos/Bataku/fadhlu_jumat.jpg

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat
dan salam semoga terlimpah kepada penutup nabi dan Rasul, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya. Saudaraku seiman, Allah ‘Azza wa Jalla telah memuliakan umat ini dengan keistimewaan yang banyak dan keutamaan yang agung; di antaranya memuliakan mereka dengan hari Jum’at sesudah membiarkan sesat orang Yahudi dan Nasrani dalam menghargainya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Hudaifah Radhiyallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ِ
“Allah telah menyesatkan orang- orang sebelum kita perihal hari Jum’at. Lalu bagi orang-orang Yahudi hari Sabtu dan bagi orang-orang Nashrani hari Ahad. Kemudian Allah mendatangkan kita dan memberi kita hidayah tentang hari Jum’at. Dan menjadikan (secara berurutan); hari Jum’at, Sabtu, dan Ahad. Mereka mengikuti kita pada hari kiamat. Kita adalah umat terakhir dari penduduk dunia, tetapi orang pertama yang diadili sebelum semua makhluk.” (HR. Muslim) Hari Jum’at : Hari Ibadah Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah
menjelaskan tentang penamaan hari Jum’at, bahwa dinamakan dengan Jum’ah itu karena dia pecahan dari

perkumpulan. Sebab kaum muslimin berkumpul pada hari tersebut sekali dalam setiap pekannya di tempat yang besar. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kaum mukminin untuk berkumpul dalam rangka beribadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli . Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Maksudnya berjalanlah dan perhatikan shalat Jum’at tersebut, bukan berjalan cepat dan buru-buru, karena berjalan dengan buru- buru saat pergi ke masjid dilarang. Al- Hasan berkata, “Demi Allah, maksudnya tidak lain adalah berjalan kaki, karena mereka tidak boleh mendatangi shalat kacuali dalam keadaan tenang dan santai namun dengan hati, niat, dan khusyu’.” (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir: 4/385-386) Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka hari Jum’at adalah hari ibadah. Kedudukannya
dibandingkan hari-hari yang ada seperti bulan Ramadhan di antara bulan-bulan lainnya. Sementara waktu istijabah (dikabulkannya
doa) yang ada pada hari itu seperti laiatul qadar di bulan Ramadhan.” (Zaad al- Ma’ad: 1/398) Karena itulah bagi setiap muslim wajib mengagungkan dan memuliakan hari tersebut,
memperhatikan
keutamaan-
keutamaannya dengan bertaqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala pada hari tersebut dengan melaksanakan berbagai kegiatan ibadah. Ibnul qayyim berkata, “Adalah di antara petunjuknya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengagungkan hari (Jum’at) ini dan memuliakannnya, serta mengistimewakannya
dengan ibadah yang dikhususkan pada hari tersebut yang tidak dikhususkan pada hari lainnya. . .” (Zaad al- Ma’ad: 1/378) Namun kita lihat berapa sering Jum’at berlalu melewati kita tanpa kita
pernah memperhatikan dan
mengistimewakannya
dengan semestinya. Bahkan, di antara manusia ada yang menunggu-nunggu
kedatangannya untuk bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan bermacam- macam kemaksiatan dan penyimpangan. bagi setiap muslim wajib mengagungkan dan memuliakan hari tersebut,memperhatikan keutamaan- keutamaannya dengan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Ta’ala pada hari tersebut dengan melaksanakan berbagai kegiatan ibadah.

Ibadah dan Adab di
Hari Jum’at Di antara beberapa

ibadah yang
disunnahkan untuk
ditegakkan pada hari
terbaik selama sepekan
tersebut adalah:

1. Disunnahkan pada shalat Shubuh di hari Jum’at, imam membaca surat al-Sajdah al- Insan secara sempurna. Hal ini sebagaimana yang telah dikerjakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, karenanya jangan memotong sebagiannya seperti yang banyak dilakukan oleh para imam shalat. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radliyallah ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca dalam shalat Fajar (Shubuh) hari Jum’at: Aliif Laam Miim Tanziil (Surat al-Sajdah) pada rakaat pertama dan pada rakaat kedua membaca Surat al- Insan.” (HR. Bukhari dan Muslim serta yang lainnya)

2. Disunnahkan memperbanyak
membaca shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hal ini berdasarkan hadits Aus bin Aus Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda: ْ “Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup
sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat di hari Jum’at,
karena shalawat akan disampaikan kepadaku.” Para shahabat berkata: “Ya Rasulallah, bagaimana shalawat kami atasmu akan disampaikan padamu sedangkan kelak engkau telah lebur dengan tanah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab:
“Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi.” (HR. Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dengan sanad yang shahih)

3. Disunnahkan membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at berdasarkan hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ِ”Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan untuknya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyinarinya dengan cahaya antara dia dan Baitul ‘atiq.” (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al- Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ al-Shaghir, no. 736)

4. Melaksanakan shalat Jum’at bagi laki-laki muslim, merdeka, mukallaf, dan tinggal di negerinya. Atas mereka shalat Jum’at hukumnya wajib. Sementara bagi budak, wanita, anak kecil dan musafir, maka shalat Jum’at tidak wajib atas mereka. Namun, jika mereka menghadirinya, maka tidak apa-apa dan sudah gugur kewajiban Dzuhurnya. Dan kewajiban menghadiri shalat Jum’at menjadi gugur disebabkan beberapa sebab, di antaranya sakit dan rasa takut. (Lihat: Syarh al-Mumti’: 5/7-24)

5. Mandi besar pada hari Jum’at juga termasuk tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau bersabda, “Apabila salah seorang kalian berangkat shalat Jum’at hendaklah dia mandi.” (HR. Muslim)

6. Memakai minyak wangi, bersiwak, dan mengenakan pakaian terbagusnya merupakan adab menghadiri shalat Jum’at yang kudu diperhatikan oleh seorang muslim. Dari Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: َ”Siapa mandi pada hari Jum’at, lalu memakai pakaiannya (yang bagus) dan memakai wewangian, jika punya. Kemudian berjalan menuju shalat Jum’at dengan tenang, tidak menggeser seseorang dan tidak menyakitinya, lalu melaksanakan shalat semampunya, kemudian menunggu hingga imam beranjak keluar, maka akan diampuni dosanya di antara dua Jum’at.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya dan dishahihkan Ibnu Khuzaimah) Dari Abu Sa’id al- Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mandi hari Jum’at itu
wajib bagi setiap orang
yang bermimpi. Begitu
pula dengan bersiwak
dan memakai
wewangian jika mampu melaksanaknnya (jika
ada).” (Muttafaq ‘alaih;
al-Bukhari dan Muslim)

7. Disunnahkan berangkat lebih pagi
(lebih awal) saat
menghadiri shalat
Jum’at. Sunnah ini
hampir-hampir saja
mati dan tidak pernah terlihat lagi. “Barangsiapa mandi di hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam.
Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. Muttafaq ‘alaih) dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ِ”Apabila hari Jum’at tiba, pada pintu-pintu masjid terdapat para Malaikat yang mencatat urutan orang datang, yang pertama dicatat pertama. Jika imam duduk, merekapun menutup buku catatan, dan ikut mendengarkan khutbah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

8. Saat menunggu imam datang, seorang muslim yang menghadiri shalat jum’at dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan shalat, dzikir ataupun membaca Al- Qur’an.

9. Wajib mendengarkan khutbah yang disampaikan imam dengan seksama, tidak boleh sibuk sendiri sehingga tidak memperhatikannya.
Akibatnya, Jum’atannya akan sia-sia. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: َ”Jika engkau berkata pada temanmu pada hari Jum’at, “Diamlah!”, sewaktu imam berkhutbah, berarti kemu telah berbuat sia- sia.” (Muttafaq ‘Alaih, lafadz milik al Bukhari) Makna laghauta, menurut Imam al Shan’ani dalam Subulus Salam, “. . . makna yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat Ibnul Muniir, yaitu yang tidak memiliki nilai baik. Adapula yang mengatakan,
(maknanya) batal keutamaan (pahala- pahala) Jum’atmu dan nilainya seperti shalat Dhuhur.” Dalam hadits lain, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ْ”Barangsiapa bermain- main krikil, maka sia- sialah Jum’atnya.” (HR. Muslim) Imam an Nawawi rahimahullah
menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim, “dalam hadits tersebut terdapat larangan memegang-megang
krikil dan lainnya dari hal yang tak berguna pada waktu khutbah. Di dalamnya terdapat isyarat agar menghadapkan hati dan anggota badan untuk mendengarkan khutbah. Sedangkan makna lagha (perbuatan sia-sia) adalah perbuatan batil yang tercela dan hilang pahalanya.”

10. Pada saat masuk masjid, didapati imam sudah naik mimbar menyampaikan khutbah, maka tetap disunnahkan untuk shalat dua rakaat yang ringan sebelum ia duduk. Hal ini didasarkan kepada hadits Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, yang menceritakan: Bahwa Sulaik al-Ghathafani datang ke masjid pada hari Jum’at saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkhutbah. Sulaik langsung duduk, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Jika salah seorang kalian mendatangi shalat Jum’at, dan (mendapati)
imam sedang khutbah, maka hendaknya ia shalat dua rakaat lalu baru duduk.” (HR. Muslim)

11. Jika sudah selesai melaksanakan shalat Jum’at, disunnahkan mengerjakan shalat sunnah sesudahnya. Di sebagian riwayat disebutkan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam shalat sesudah Jum’at sebanyak dua rakaat, (Muttafaq’ alaih). Dan terdapat dalam riwayat lain, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memerintahkan kepada orang yang melaksanakan shalat sesudah Jum’at sebanyak empat rakaat, (HR. Muslim) Ishaq rahimahullah berkata, “Jika ia shalat (sunnah ba’da Jum’at) di masjid maka ia shalat empat rakaat. Dan jika melaksanakannya di rumahnya, maka ia shalat dua rakaat.” Abu Bakar al-Atsram berkata, “Kedua-duanya boleh.” (al-Hadaiq, Ibnul Jauzsi: 2/183) “Jika ia shalat (sunnah ba’da Jum’at) di masjid maka ia shalat empat rakaat. Dan jika melaksanakannya di rumahnya, maka ia shalat dua rakaat.”

12. Memperbanyak doa di penghujung hari Jum’at, karena termasuk waktu mustajab untuk dikabulkannya doa. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radliyallah ‘Anhu, dia bercerita: “Abu Qasim (Rasululah) Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ً”Sesungguhnya pada hari Jum’at itu terdapat satu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri berdoa memohon kebaikan kepada Allah bertepatan pada saat itu, melainkan Dia akan mengabulkannya.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya, yang kami pahami, untuk menunjukkan masanya yang tidak lama (sangat singkat).” (Muttafaq ‘Alaih)

wallahu Ta’ala a’lam.

Sumber : Web Islam

Posted by Wordmobi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dari Phone Follow Twitter di Sini ☻

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d blogger menyukai ini: