Ancaman Radiasi pada Makanan

Ledakan reaktor
nuklir Fukushima tidak hanya membuat rakyat Jepang ketakutan. Berbagai bangsa pun cemas berlipat-lipat.
Pasalnya, efek radiasi yang ditimbulkan
berdampak buruk pada kesehatan, apalagi radiasi diduga telah
menyebar pula ke bahan makanan. Dari sejumlah
pemberitaan diketahui
bahwa level radiasi di sekitar lokasi ledakan PLTN Fukushima telah
berada di atas normal. Konsekuensi yang
mungkin muncul adalah
dampak negatif
terhadap tubuh
manusia. Pertanyaannya, apakah
radiasi nuklir tersebut
serta-merta
mengontaminasi
makanan, terutama
yang dikemas dan beredar ke berbagai
negara? Apakah
produk makanan
kemasan yang terkena
radiasi aman
dikonsumsi? Jaminan keamanan Sejumlah produk
makanan segar,
seperti susu, bayam,
dan air keran yang
bisa langsung
dikonsumsi yang diproduksi tidak jauh
dari reaktor nuklir,
memang dilaporkan
tercemar radiasi di
atas ambang batas.
Meski demikian, Pemerintah Jepang
telah memberikan
jaminan keamanan.
Level dosis di atas
normal tidak berarti
produk makanan yang terkontaminasi itu
langsung memicu
kematian jika
dikonsumsi kecuali
jika dikonsumsi secara
berlebihan dan secara terus-menerus dalam
waktu lama. Pemerintah patut
belajar dari cara
Jepang menenangkan
warganya dengan
bertindak cepat untuk
menghindari hal-hal yang membahayakan
kesehatan. Kantor
berita AFP pada hari
Jumat (18/3/2011)
melaporkan,
Pemerintah Jepang langsung menguji
produk susu dan
bayam serta mengkaji
bagaimana produk
makanan tersebut
didistribusikan. Meski demikian,
jaminan keamanan
tidak serta-merta
meredam kepanikan
warga dunia. Meski
secara resmi Pemerintah Jepang
telah melarang
penjualan produk
makanan yang
dihasilkan dari wilayah
di sekitar reaktor Fukushima, temuan
radiasi pada produk
makanan malah
semakin menambah
kekhawatiran terhadap
dampak darurat nuklir. Masyarakat Indonesia
pun ikut panik, apalagi
banyak informasi
bohong beredar di
internet. Namun,
pemerintah menjamin, jika fasilitas produksi
bahan pangan itu
berada dalam radius
bahaya radiasi, produk
impor itu tidak akan
diterima Badan Pengawas Obat dan
Makanan. Sebenarnya, kepanikan
ini mengingkari sifat
alamiah manusia yang
bisa hidup bersama
radiasi, yang artinya
adalah proses hantaran energi yang
luas. Radiasi bisa
berasal dari sinar
matahari yang
mendukung kehidupan
dan hidup manusia. Setiap saat permukaan
Bumi terpapar radiasi
sinar kosmis yang
terdiri dari gelombang
elektromagnetik serta
ratusan jenis partikel dan mineral radioaktif
yang terlarut dalam air
dan udara. Jadi, tanpa kehadiran
reaktor nuklir pun kita
tidak bebas dari
paparan radiasi
radioaktif. Ketika
teknologi kian canggih, ada radiasi buatan
yang muncul dari
berbagai peralatan
modern, seperti sinar
X pada peralatan
medis, televisi, monitor komputer. Tidak seperti sinar
matahari yang dapat
kita rasakan, paparan
radiasi tidak terasa.
Efek radiasi bersifat
tidak langsung, bisa berminggu kemudian
baru muncul gejalanya,
bergantung material
radioaktif yang dilepas
dan durasi paparan.
Level paparan yang tinggi menyebabkan
sindrom radiasi akut,
bahkan kematian.
Gejalanya, mual,
muntah, kelelahan,
rambut rontok, dan diare. Efeknya pada makanan Meskipun produksi
susu dari peternakan
di Fukushima, sekitar
30 km dari lokasi
PLTN, dilaporkan
tercemar radiasi, hingga kini belum ada
laporan makanan
kemasan tercemar
radiasi. Kecemasan berlebihan
terhadap cemaran
radiasi pada makanan
kemasan ini bisa
berdampak buruk
terhadap teknologi pengawetan makanan
dengan iradiasi (food
irradiation). Josephson (1983)
dalam tulisannya ”An Historical Review of
Food Irradiation” di Journal of Food
Safety menyebutkan
penggunaan radiasi
gamma untuk
mengawetkan makanan
dengan dosis di atas 10 kGy (kilogrey)
sudah berlangsung
pada produk pangan
kemasan. Meski Codex
Alimentarius
Commission tahun
2003 sudah
menyatakan iradiasi
pada bahan pangan di atas dosis 10 kGy
dibolehkan,
Pemerintah Indonesia
tetap mensyaratkan uji
keamanan pangan
apabila produk itu akan dikomersialkan
dan dikonsumsi
masyarakat. Di sejumlah negara
maju, pasien yang baru
selesai menjalani
operasi—karena daya imun tubuh masih
rendah dan diisolasi
dari kondisi normal— direkomendasikan
mengonsumsi makanan
bergizi tinggi yang
disterilkan dengan
berbagai teknik,
termasuk radiasi. Makanan siap saji
bergizi tinggi dalam
kemasan laminasi yang
disterilkan dengan
teknik radiasi dosis
tinggi 45 kGy dan dikombinasikan dengan
suhu rendah dapat
diterapkan untuk
memenuhi keperluan
asupan gizi tersebut. Sejauh ini, penelitian
di sejumlah perguruan
tinggi di Indonesia
telah mengembangkan
teknik iradiasi pada
biji-bijian dan produk olahannya, buah-
buahan, daging, pepes
ikan mas, dan lain-
lain. Hasil riset
tersebut dapat
dimanfaatkan guna meningkatkan kualitas
higiene dan daya awet
bahan pangan.

Posman Sibuea Guru
Besar di Jurusan Ilmu
dan Teknologi Pangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dari Phone Follow Twitter di Sini ☻

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d blogger menyukai ini: