Melokalisasi Judi ??x

Judi sudah dikenal sejak zaman jahiliyah. Bahkan, orang-ornag Jahiliyah terbiasa melakukannya dan sudah menjadi tradisi mereka. Sebenarnya, masyarakat Jahiliyah memandang kebiasaan judi sebagai aktifitas yang bermasalah, karena dampak buruk yang ditimbulkannya. Karenanya mereka bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hukumnya,
َكَنوُلَأْسَي ِنَع ِرْمَخْلا رِسْيَمْلاَو ”

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi.” (QS. Al-Baqarah: 219) Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi- Nya agar memberitahukan bahwa dalam khamar dan judi terdapat banyak manfaat dan
bahayanya. Namun, dosa dan bahayanya jauh lebih besar. Memang judi bagi sebagian orang bisa menjadi ladang mendapat harta dan menjadi pemuas jiwa. Namun kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih besar seperti menghambur- hamburkan harta, menghalangi dari dzikir kepada Allah dan shalat, juga menjadi penyebab permusuhan, perkelahian, dan saling membenci. Nafsu berjudi bisa menjadikan seseorang berani menipu, mencuri, korupsi, merampok, dan membunuh orang lain untuk mendapatkan uang guna bermain judi. Akibat buruknya tidak hanya menimpa pelakunya, berjudi bisa menyebabkan keluarga sengsara karena sering jatah nafkah anak dan istri habis dipertaruhkan di meja judi. Itu sebabnya, banyak pakar mengatagorikan judi sebagai patologi sosial, dan bagi pelakunya dikatagorikan sebagai individu dengan perilaku menyimpang. Karena memiliki mafsadat yang besar, maka Islam mengharamkannya. Dan pastinya, setiap akal sehat akan sepakat untuk lebih mengedepankan sesuatu yang memiliki banyak manfaat dan maslahat serta menjauhi segala hal yang memiliki bahaya yang besar. Hukum Judi Judi diharamkan dalam Al- Qur’an dengan lafadz yang sangat sharih (jelas) karena memiliki bahaya dan madharat
yang besar serta menjadi jalan Syetan untuk menjauhkan orang dari dzikrullah dan menciptakan permusuhan. Allah Ta’ala berfirman,
اَي اَهُّيَأ َنيِذَّلا اوُنَمَآ اَمَّنِإ ُرْمَخْلا ُرِسْيَمْلاَو ُباَصْنَأْلاَو ُماَلْزَأْلاَو ٌسْجِر ْنِم ِلَمَع ِناَطْيَّشلا ُهوُبِنَتْجاَف ْمُكَّلَعَل َنوُحِلْفُت اَمَّنِإ ُديِرُي ُناَطْيَّشلا ْنَأ َعِقوُي ُمُكَنْيَب َةَواَدَعْلا َءاَضْغَبْلاَو يِف ِرْمَخْلا ِرِسْيَمْلاَو ْمُكَّدُصَيَو ْنَع ِرْكِذ ِهَّللا ِنَعَو ِةاَلَّصلا ْلَهَف ْمُتْنَأ َنوُهَتْنُم ”

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan- perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu) .” (QS. Al-Maidah: 90-91) Imam al-Dzahabi dalam al- Kabair menambahkan dalil haramnya berjudi dengan mengategorikannya sebagai memakan harta orang lain dengan cara batil,
اَلَو اوُلُكْأَت ْمُكَلاَوْمَأ ْمُكَنْيَب ِلِطاَبْلاِب

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara
kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188) Juga dalam keumuman hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda: “Sesunguhnya orang-orang yang menguasai harta Allah dengan jalan yang tidak benar, maka pada hari kiamat bagian mereka adalah api neraka.” (HR. Bukhari dari Khaulah al-Anshariyyah) Dan dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan siapa yang mengajak taruhan agar ia bersedah sebagai kafarahnya,
ْنَمَو َلاَق ِهِبِحاَصِل َلاَعَت كرِماَقُأ ْقَّدَصَتَيْلَف

“Dan Siapa yang berkata kepada kawannya, ‘mari, kita bertaruh.’ Hendaknya ia bersedekah.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah) Menurut Imam al-Khathabi, ia bersedekah dengan harta yang ingin dia jadikan taruhan tadi. Namun ada sebagian pendapat lain dengan shadakah
untuk menghapuskan dosa perkataannya tadi. Pendapat kedua inilah yang disepakati Imam Muslim. Hanya berucap untuk melakukan taruhan yang menjadi bagian utama dan ciri utama perjudian diwajibkan untuk membayar kafarah atau shadakah, bagaimana dengan orang yang telah berbuat tadi? Tentu kesalahan dan dosa yang diperbuatnya lebih besar. Karenanya, Imam al-Dzahabi memasukkan berjudi sebagai salah satu dosa besar, dan menempatkannya pada urutan kedua puluh. (Al-Kabair, Imam alDzahabi dalam Maktabah Syamilah) Apa itu Judi? Menurut Syaikh Abdurrahman
bin Nashir Al-Sa’di dalam tafsrinya, Judi adalah setiap kompetisi yang memiliki taruhan dari kedua belah pihak, baik dengan main kartu atau catur. Maka setiap kompetisi dalam bentuk ucapan atau perbuatan dengan mengadakan taruhan masuk di dalamnya, kecuali perlombaan balap kuda, balap unta, dan memanah. Ketiganya dibolehkan karena berfungsi untuk menopang perjuangan islam, karenanya diberi keringanan oleh syariat. Bentuk judi yang paling terkenal di masyarakat jahiliyah adalah sepuluh orang berserikat membeli seekor unta dengan saham yang sama. Kemudian dilakukan undian. Dari situ, tujuh orang dari mereka mendapat bagian yang berbeda-beda menurut tradisi mereka, dan tiga orang
lainnya tidak mendapatkan apa-apa alias kalah. (sebagaimana yang disebutkan Imam Malik dalam al-Muwatha’ dari Dawud bin Husain yang mendengar langsung keterangan ini dari Sa’id bin Musayyib) Sedangkan bentuk perjudian di abad modern ini jauh lebih beragam, namun intinya satu, di sana ada sesuatu yang menjadi turahannya. Di antara bentuknya adalah:

1. Apa yang dikenal dengan yanasib (undian) dalam berbagai bentuk. Yang paling sederhana di antaranya adalah dengan membeli nomor-nomor yang telah disediakan, kemudian nomor- nomor itu diundi. Pemenang pertama mendapat hadiah yang amat menggiurkan. Lalu, pemenang kedua, ketiga dan demikian seterusnya dengan jumlah hadiah yang berbeda- beda. Ini semua adalah haram,
meski mereka berdalih untuk kepentingan sosial.

2. Membeli suatu barang yang di dalamnya terdapat sesuatu yang dirahasiakan atau memberinya kupon ketika membeli barang, lalu kupon- kupon itu diundi untuk menentukan pemenangnya.

3. Termasuk bentuk perjudian di zaman kita saat ini adalah asuransi jiwa, kendaraan, barang-barang, kebakaran atau asuransi secara umum, asuransi kerusakan, dan bentuk-bentuk asuransi lainnya. Bahkan sebagian artis
penyanyi mengasuransikan suara mereka. Ini semua hukumnya haram. (Tentang hukum asuransi dan solusinya menurut Islam. Lihat majalah Al Buhuts Al-Islamiyah; edisi 17, 19, 20.Terbitan Ar Ri ’asatul Ammah Li Idarotil Buhutsil Ilmiyah.) Demikianlah, dan semua bentuk taruhan masuk ke dalam kategori judi. Pada saat ini bahkan telah ada klub khusus judi (kasino) yang di dalamnya ada alat judi khusus yang disebut rolet khusus untuk permainan dosa besar tersebut. Juga termasuk judi, taruhan yang diadakan saat berlangsung pertandingan sepak bola, tinju atau semacamnya. Demikian pula dengan bentuk-bentuk permainan yang ada di beberapa toko mainan dan pusat hiburan, sebagian besar mengandung unsur judi, seperti apa yang mereka namakan lippers. Adapun berbagai pertandingan yang kita kenal sekarang, maka ada tiga macam:

1. Untuk maksud syiar Islam, maka hal ini di bolehkan, baik dengan menggunakan hadiah atau tidak. Seperti pertandingan pacuan kuda dan memanah. Termasuk dalam kategori ini -menurut pendapat yang kuat – berbagai macam perlombaan dalam ilmu agama, seperti menghafal Al- Qur ’an.

2. Perlombaan dalam sesuatu yang hukumnya mubah, seperti pertandingan sepak bola dan lomba lari, dengan catatan, tidak melanggar hal- hal yang diharamkan seperti meninggalkan shalat, membuka aurat dan sebagainya. Semua hal ini hukumnya ja’iz (boleh) dengan syarat tanpa menggunakan hadiah.

3. Perlombaan dalam sesuatu yang diharamkan atau sarana kepada perbuatan yang diharamkan, seperti lomba ratu kecantikan atau tinju. Juga masuk ke dalam kategori ini menyelenggarakan sabung ayam, adu kambing atau yang semacamnya. (Lihat: Muharramat Istahana Bihan Naas, karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al- Munajjid) Melokalisasi Judi Melegalkan judi dengan membuat lokalisasi tempat perjudian berarti mengizinkan dan mengabsahkan perbuatan judi sehingga tidak boleh diingkari dan dihentikan. Hal ini bermakna mempersilahkan orang yang ingin berjudi untuk datang ke tempat tersebut karena di sana judi diperbolehkan dan dilegalkan. Berarti, judi yang diharamkan dalam Islam dihalalkan oleh sebagian pihak dalam bentuk peraturan atau undang- undang. Dosa orang tersebut lebih berat dari pada orang yang mentaati hukumnya. .. Allah Ta’ala telah mengingkari orang yang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu dalam masalah agama yang berasal dari dirinya sendiri tanpa ada argumentasi dari Allah. Dia berfirman,
اَلَو اوُلوُقَت اَمِل ُفِصَت ُمُكُتَنِسْلَأ َبِذَكْلا اَذَه ٌلاَلَح اَذَهَو ٌماَرَح اوُرَتْفَتِل ىَلَع ِهَّللا َبِذَكْلا

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal
dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.” (QS. Al-Nahl:
116) Allah mencela Yahudi dan Nashrani atas perilaku mereka yang mempertuhankan para tokoh agama mereka, bukan dengan bersujud kepada mereka tapi dengan mentaati keputusan mereka yang bertentangan dengan hukum Allah. اوُذَخَّتا ْمُهَراَبْحَأ ْمُهَناَبْهُرَو اًباَبْرَأ ْنِم ِنوُد ِهَّللا

“Mereka menjadikan orang- orang alimnya, dan rahib- rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (QS. Al Taubah: 31).

Maka, dalam masalah judi, seseorang yang bermain judi dengan meyakini bahwa judi itu haram maka dia melakukan dosa besar yang tidak sampai mengeluarkannya dari Islam. Namun, siapa yang melegalkan
perjudian dan menghalalkannya maka orang tersebut telah keluar dari Islam, statusnya bukan lagi sebagai muslim dan mukmin. Maka upaya segelintir orang yang menginginkan aktivitas perjudian dapat dilegalkan di Indonesia dengan cara dilokalisasi bukan persoalan kecil dalam timbangan Islam. Itu persoalan besar dan berbahaya yang bisa membatalkan syahadat pelakunya. Apalagi tujuannya agar bisa menjadi salah satu sumber pendapatan negara dan untuk menarik berbagai wisatawan asing sehingga bisa
menjadi salah satu bentuk devisa. (Seperti yang diucapkan F. Abbas dalam sidang perdana UU Penertiban Perjudian di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu 21/4/10)
. Upaya segelintir orang yang menginginkan aktivitas perjudian dapat dilegalkan di Indonesia dengan cara dilokalisasi bukan persoalan kecil dalam timbangan Islam. Itu persoalan besar dan berbahaya yang bisa membatalkan syahadat pelakunya. Sekaligus juga pernyataan seorang tokoh organisasi terbesar di negeri ini yang mendukung diadakannya lokalisasi perjudian dengan menyatakan dosa bagi pelaku judi di dalam negeri dosanya satu sedangkan yang berjudi di luar negeri adalah dua adalah pernyataan yang salah besar. Karenanya tepat sekali
keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang tetap tidak setuju kalau judi dilokalisasi walau di pulau terpencil. Apapun alasannya, MUI menegaskan bahwa judi diharamkan. Wallahu a’lam

Oleh: Badrul Tamam

tag: hukum , syariat, penguasa, halal, haram, angka jitu, angka bahagia,prediksi senin,prediksi rabu,prediksi kamis,prediksi sabtu,prediksi minggu,prediksi hari ini,prediksi SGP,poker,judi,togel,taruhan,totoan, bedah syair, singapore prediction, las vegas, makao

Posted by symbian 3rd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dari Phone Follow Twitter di Sini ☻

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d blogger menyukai ini: