Berdayakan Warga Desa, Tercipta Peluang Usaha

Pasangan suami-istri, Askari
dan Uwinah, berhasil
mengubah kesulitan petani
jeruk di Desa Weragati,
Kecamatan Palasah,
Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menjadi peluang
usaha yang menghasilkan
keuntungan. Tanaman jeruk sambal dan
jeruk peras yang ditanam di
area seluas 22,5 hektare
(Ha) sangat melimpah di
Desa Weragati. Masa panen
buah ini memang tidak ada putusnya, baik di musim
hujan maupun kemarau. Sayangnya, harga buah ini
naik-turun sehingga kadang
bisa anjlok. Menurut Uwinah,
45, Kepala Badan Usaha
Milik Desa (Bumdes)
setempat, harga jeruk sambal sempat anjlok hingga
Rp300/kg pada 2006 dari
biasanya Rp7.000-
Rp15.000/kg. Para petani jeruk sambal
enggan memetik buah karena
harga jual dengan ongkos
memetik tidak seimbang.
Uwinah bersama Askari, 46,
suaminya, yang menjabat Kepala Desa Weragati,
prihatin terhadap kesulitan
warganya. Keduanya berpikir agar bisa
memecahkan masalah yang
dihadapi petani jeruk di
desanya. Mereka meminta
Kepala Urusan Ekonomi dan
Pengembangan (Kaur Ekbang) desa setempat, Didi
Suryadi, lulusan sarjana
teknik pertanian Universitas
Widya Mataram
Yogyakarta, untuk meneliti
kandungan jeruk sambal. Hasilnya, jeruk sambal
memiliki kandungan minyak
asiri. Setelah dihitung,
keuntungan dari minyak asiri
terlalu kecil serta hanya
bagian kulit jeruk yang dimanfaatkan, sedangkan
dagingnya terbuang. Uwinah dan Askari lalu
bermusyawarah dengan
warga dan Didi Suryadi untuk
memanfaatkan bagian
daging jeruk. Terciptalah
pengolahan daging jeruk menjadi sirup. Sirup dari
jeruk sambal itu diberi nama
Jestika, kepanjangan dari
Jeruk Sambal Weragati
Majalengka. Modal saat usaha ini mulai
di jalankan dibantu dari
Koperasi Bina Mandiri di
Desa Weragati sebesar Rp6
juta. Sambil meneliti lebih
lanjut, Uwinah yang juga Ketua Tim Penggerak PKK
Desa Weragati bersama
anggotanya mencoba
menampilkan hasil
pengolahan jeruk itu pada
Pameran Pembangunan Kabupaten Majalengka di
Lapangan Gelanggang
Generasi Muda (GGM) pada
2006. Hasil karyanya
mendapat sambutan luar
biasa, termasuk dari Pemerintah Kabupaten
Majalengka. “Saat itu kami belum mengantongi izin PIRT
(Pangan Industri Rumah
Tangga), apalagi sertifikasi
halal. Namun, permintaan
pengunjung yang ingin
membeli produk Jestika cukup banyak sehingga
pegawai dari Dinas
Kesehatan mempersilakan
kami untuk menjualnya.
Alhamdulillah, produk Jestika
terjual laris dan habis, ” kata Uwinah di tempat produksi
sirup Jestika, Blok Pasar
Desa Weragati belum lama
ini. Menurut Uwinah, tempat
produksi Jestika pertama
kali di balai desa dengan
enam pegawai bagian
pengupas kulit dan dua
pegawai penyuling. Peralatan yang dimiliki masih terbatas
pada alat-alat manual serta
belum mengantongi izin PIRT
dan sertifikat halal.
Kelengkapan tersebut baru
dapat terpenuhi setelah mendapatkan bantuan
keuangan program
pembinaan dari Bank BRI. Wanita kelahiran 2
November 1965 itu
menuturkan, pernah
mengalami kesulitan membeli
beberapa peralatan yang
rusak pada 2008. Atas dasar itu, pihaknya mendapatkan
penawaran program
pembinaan dari Bank BRI
pada September 2008 lebih
dari Rp20 juta setelah
mengisi dialog di TVRI Bandung. “Kami menyambut baik program tersebut dan
Alhamdulillah semuanya
berjalan lancar. Peralatan
yang rusak diganti dengan
yang baru dan bisa membeli
peralatan pelengkap lainnya. Sisanya kami gunakan untuk
pengembangan usaha, ” kata Uwinah. Setelah berjalan satu tahun
empat bulan, tepatnya pada
Maret 2010, saat mengikuti
pameran di Jakarta, Jestika
mendapatkan penawaran
kedua dari Bank BRI untuk memperpanjang program
pembinaan. Nilai bantuan
bertambah menjadi sekira
Rp50 juta. Bantuan tersebut digunakan
untuk pengembangan usaha
dan peningkatan sarana dan
prasarana di antaranya
tempat produksi, outlet
Jestika, perizinan, dan sertifikat halal. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Bank BRI yang
telah membantu usaha yang
dikelola oleh Bumdes (Badan
Usaha Milik Desa) yang di
dalamnya adalah ibu-ibu dari
tim penggerak PKK Desa Weragati, ” ujar Uwinah. Kini Uwinah dan Askari telah
mengenyam hasil jerih payah
mereka. Sebanyak 50 warga
dari keluarga eks penerima
Bantuan Langsung Tunai
(BLT) bekerja sebagai pengupas kulit. Aset yang
dimiliki Jestika pun
bertambah menjadi sekira
Rp200-an juta. Untuk itu, ibu dua anak ini
mengaku optimistis dengan
usaha yang dikelolanya meski
harus bersaing dengan
minuman segar produksi
pabrik. “Minuman segar Jestika sangat natural karena
berasal dari buah jeruk asli
dan memakai gula tebu.
Selain natural, Jestika juga
bisa menjadi ikon minuman
segar asal Kabupaten Majalengka. Jestika bisa
jadi oleh-oleh khas
Majalengka. Kami yakin
Jestika akan berkembang
dengan pesat, ” ujar Uwinah.

(taofik hidayat ) (Koran SI/ Koran SI) (ade)

Posted by Wordmobi

One Response to Berdayakan Warga Desa, Tercipta Peluang Usaha

  1. Wahyudi mengatakan:

    kami sgt terkesan dgn motivasi dan semangat anda sdri Uwinah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dari Phone Follow Twitter di Sini ☻

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d blogger menyukai ini: