Sukses lewat Pisau Unik,
Omzetnya Rp5 Juta/Bulan

Pisau ite.jpg

Unik, mungkin kata itu
bisa menggambarkan usaha
yang dirintis Dimas Satrio
Pamungkas. Pria 24 tahun
ini lebih memilih untuk
menjadi pembuat pisau,
ketika banyak anak muda
memilih jenis usaha yang
populer.
Ketertarikan Dimas pada
pisau bermula saat
menjalani kerja praktik
sebagai salah satu syarat
kelulusan dari Institut
Teknologi Nasional
(Itenas) Bandung. Dimas
menjalani kerja praktik di
salah satu perusahaan
pisau ternama di Indonesia
yakni PT Kardin Pisau
Indonesia.
” Waktu itu tugas saya
mendapat proyek untuk
membuat pisau hias dengan
image Gatot Kaca. Tak
disangka, pisau pertama
buatan saya
” Gatot Kaca
series ” mendapat
perhatian dari banyak
orang, mulai dari dosen
hingga kolektor,
” ujarnya.
Setelah kerja praktik,
Dimas juga harus
menyelesaikan tugas akhir.
Pria yang mengambil
jurusan desain produk ini
lalu membuat pisau yang
agak berbeda dari
sebelumnya, yakni pisau
tebas yang
mengedepankan aspek
desain seperti fungsi,
teknologi, ergonomi, hingga
aspek keamanan
penggunaan pisau yang
dapat meningkatkan
produktivitas kerja.
Dalam proses pembuatan
pisau tersebut, Dimas
mendapatkan banyak
masukan dari perhimpunan
penempuh rimba dan
pendaki gunung, Wanadri.
” Dari situlah saya
melakukan observasi untuk
mengetahui seperti apa
pisau yang dibutuhkan oleh
para pecinta alam, misalnya
untuk merintis jalan di
hutan. Selanjutnya, saya
mendapat bantuan dari
salah seorang rekan untuk
menganalisis shocking
impact pada setiap
alternatif desain yang saya
buat. Pisau yang saya
desain, central shooking
impact diposisikan pada
bilah pisau (bukan handle),
sehingga dapat mengurangi
tingkat kelelahan pengguna
dan dapat menaikkan
produktivitas kerja ” papar
Dimas.
Awal 2009, tak lama
setelah lulus kuliah, Dimas
mendapat uang jajan
terakhir dari orang tuanya
sebesar Rp1 juta. Tanpa
pikir panjang, Dimas
menggunakan uang
tersebut sebagai modal
awal untuk mendirikan
usahanya, Javasmith
Indonesia Blacksmith.
Dari modal awal itu, Dimas
membuat tiga pisau dan
kemudian di jual melalui
Forum Pisau Indonesia di
situs Kaskus, dengan
kisaran harga Rp300 ribu

Rp700 ribu. Dalam waktu
dua minggu, semua pisau itu
terjual.
Dari situ, kreativitas Dimas
terus terasah dan
katalognya semakin terisi
dengan desain pisau hasil
coretan tangannya. Saat ini
Dimas menjual pisaunya
dengan harga yang
bervariasi, mulai dari
Rp350.000 hingga Rp1,8
jutaan. Untuk proses
produksi satu pisau,
biasanya memakan waktu
kurang lebih satu bulan.
” Pisau Gatot Kaca saya
pernah ditawar Rp5 juta
oleh seorang kolektor, tapi
saya enggak kasih karena
itu karya pertama saya,

ungkapnya.
Berbicara mengenai
produktivitas,
keberhasilan Dimas tidak
lepas dari bantuan tim
produksi. Seiring waktu,
Dimas kini punya tim
produksi yang terdiri atas
empat orang pengrajin di
Soreang, Bandung. Untuk
lokasi pembuatan pisau,
Dimas menggunakan
bengkel kecil dan
sederhana milik salah
seorang tim produksi.

Awalnya, kami buat pisau
di dapur rumah,” ujar
Dimas sambil tertawa.
Setelah berjalan beberapa
bulan, Dimas mulai
menawarkan desain
produknya ke jasa
keamanan swasta, yakni PT
Garda Utama Security
Services.
” Awalnya saya tawarkan
jasa men-develop desain
atribut security tersebut
dan mereka approve.Saya
desain satu set. Waktu itu
dibayar Rp2,5 juta.
Setelah itu, mereka
meminta saya untuk
membuat pisau yang
bentuknya menyerupai
senjata api sebanyak 100
buah. Dari situ, saya
mendapatkan uang sebesar
Rp9 juta,” ceritanya.
Nahas, ketika usahanya
menunjukkan
perkembangan yang
menggembirakan, Dimas
ditipu klien sehingga
modalnya habis.
” Saat itu,
yang saya miliki tinggal
katalog desain pisau,

lirihnya.
Toh, peristiwa itu tidak
menyurutkan semangat
Dimas untuk berkarya.
Pada Desember 2009,
Dimas memutuskan untuk
mengumpulkan modal agar
bisa membangun kembali
usahanya dengan bekerja
di perusahaan desain
produk furniture di
Jakarta Selatan.
Setelah enam bulan
bekerja, Dimas akhirnya
mengundurkan diri dan
fokus untuk
mengembangkan usahanya.
Kebetulan Dimas
mendapatkan tawaran
untuk mengerjakan proyek
pembuatan pisau khusus
kelapa sawit dari sebuah
perusahaan sawit nasional.
Saat ini proyek tersebut
masih dalam tahap riset
yang sudah berjalan selama
tiga bulan.
” Saya belum bisa memberi
tahu nama perusahaannya.
Namun, mereka meminta
saya untuk mendesain dan
membuat pisau yang
khusus untuk kelapa sawit,
mulai dari segi ergonomis
hingga keamanannya,
karena selama ini banyak
pisau khusus kelapa sawit
yang perlu ditingkatkan
aspek desain, keamanan,
dan kenyamannya,

paparnya.
Untuk urusan marketing,
mulai dari promosi hingga
memasarkan produk,
Dimas melakukannya
sendiri. Ilmu pemasaran
dipelajarinya secara
autodidak atau learning by
doing.
” Selama ini, saya
mempromosikan produk
hanya dari Facebook,
forum pisau di Kaskus,
forum pisau American
Blacksmith Community,
dan mulut ke mulut,
” kata
dia.
Akhirnya, semua usaha
Dimas membuahkan hasil.
Produknya berhasil
menembus pasar Dubai,
Toronto, Amerika Serikat
(AS), dan Malaysia, meski
tidak dengan volume yang
besar.
” Pertama kali saya kirim ke
Dubai, ada pembeli yang
pesan dua pisau yang
bernilai sekira Rp2 juta.
Setelah itu, saya mendapat
order dari Toronto dan
Malaysia. Dari Facebook
pun, saya berhasil
merambah ekspor ke AS,

tutur Dimas.
Dimas pun mengungkapkan
alasan banyak orang
tertarik dengan pisau.
Menurut dia, ciri khas pisau
buatannya adalah desain
yang kental dengan budaya
Indonesia.
” Mereka bilang ke saya
bahwa lebih suka pisau
tradisional. Dan menurut
mereka, buatan saya lebih
baik daripada pisau yang
ada di negaranya. Selama
ini pasar mereka dikuasai
oleh perusahaan pisau
ternama asal Australia
yang khusus membuat
pisau tradisional Indonesia
dengan harga yang tinggi,
jadi itu adalah celah saya
agar bisa masuk dengan
menawarkan harga lebih
kompetitif,
” jelasnya.
Dimas mengaku, saat ini
keuntungan yang
dikantonginya rata-rata
mencapai Rp5 juta per
bulan.
” Walau mungkin
nggak ada apa-apanya jika
dibandingkan bekerja di
perusahaan, tapi ada
kepuasan tersendiri,
”ucapnya.

(Sandra Karina/
Koran SI) (ade)

Posted by Wordmobi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dari Phone Follow Twitter di Sini ☻

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d blogger menyukai ini: