Selamatkan Lingkungan
dalam Proses Pembuatan Batik

BATIK tentu bukan barang
asing bagi masyarakat
negeri ini. Salah satu ciri
khas Indonesia ini kian naik
daun setelah Unesco
mengakui batik secara
internasional pada 2
Oktober 2009.
Namun, apakah Anda tahu
kalau proses pembuatan
karya bangsa Indonesia
bercita rasa tinggi ini
ternyata mengorbankan
sumber daya alam yang
begitu besar?
Kementerian Lingkungan
Hidup mengidentifikasi
UKM Batik sebagai salah
satu penyebab pencemaran
sungai terburuk di
Indonesia. Penggunaan air,
pewarna bahan, dan
kompor minyak tanah yang
berlebihan membuat
pencemaran lingkungan.
Sejumlah penelitian
mengungkapkan, industri
batik menghasilkan emisi
CO2 yang cukup tinggi.
Jika hal ini tidak segera
disadari oleh pengusaha
batik, maka berpotensi
pada menghilangnya
persedian air di daerah
tersebut saat musim
kemarau.
Salah satu contoh dampak
dari proses pembuatan
batik yakni tercemarnya
Sungai Tempuran di
kawasan Kampoeng Batik
Laweyan, Solo, Jawa
Tengah. Berdasarkan
catatan, 15 tahun yang lalu
sungai tersebut sangat
jernih dan menjadi tempat
hidup ikan-ikan sungai.
Namun saat ini, sungai yang
menjadi salah satu
pembuangan limbah itu
mengalami perubahan
warna menjadi hitam
pekat. Ini menjadi salah
satu dampak paling ekstrim
dari pencemaran akibat
proses pembuatan batik.
Project Officer Clean
Batik Initiative (CBI)
Adnan Tripradipta
menjelaskan, limbah-
limbah tersebut terjadi
karena para pengusaha
tidak peduli terhadap
lingkungan.
“ Mereka biasanya tidak
mengolah limbah tersebut
sebelum dibuang ke sungai.
Penggunaan air yang
berlebihan membuat air
tanah semakin habis. Belum
lagi penggunaan zat
pewarna yang berlebihan,
sehingga jika tidak
terpakai langsung dibuang,

kata Adnan saat ditemui
okezone , beberapa waktu
lalu.
Padahal jika peduli
lingkungan, para pengusaha
itu dapat melakukan
efisiensi di sejumlah lini
dalam proses pembuatan
batik. Di sinilah diperlukan
kesadaran dari para
pengusaha batik agar mau
melakukan perubahan.
Hal senada diungkapkan
Officer CBI Junny
Saraswati. Junny
mencontohkan, limbah lilin
yang biasa dibuang dalam
proses pembuatan batik
ternyata dapat
dimanfaatkan kembali.
“ Mereka hanya cukup
menyaring air lilin
tersebut, dan sisanya
dapat dimanfaatkan
kembali untuk proses
selanjutnya. Jika ini
dilakukan, maka para
pengusaha dapat
melakukan penghematan,

tuturnya.
Tak cuma air lilin, sejumlah
alat dan bahan dalam
pembuatan batik ternyata
dapat diolah menjadi
ramah lingkungan dan
bermanfaat secara
ekonomi.
Misalnya, pemanfaatan
kembali larutan bekas
pencelupan padding dapat
mengurangi konsumsi
bahan kimia sehingga dapat
menghemat pembelian zat
pewarna hingga Rp6,48
juta per tahun dengan
biaya investasi Rp400 ribu.
Bahkan, dengan teknik ini
mampu mengurangi limbah
zat pewarna terbuang ke
lingkungan mencapai 1.800
liter.
Memasang bak
penampungan di sekitar
proses pencucian plankan,
dapat menghemat
konsumsi air hingga 140 m3
per tahun. Secara nominal,
penghematan biaya
pengolahan limbah Rp700
ribu per tahun.
Tidak hanya itu, dengan
memasang alat penghubung
antar bak pada unit mesin
haspel dapat mengurangi
konsumsi air dan
menghemat pengelolaan air
limbah sebesar Rp18 juta
per tahun. Sekaligus dapat
mengurangi air bersih lebih
dari tiga juta liter per
tahun.
Kata Adnan, sebenarnya
pengusaha batik dapat
berhemat. Namun lagi-lagi
karena kurangnya
kesadaran dari para
pengusaha, terjadi
pemborosan dalam proses
pembuatan batik.
Selain itu, penggunaan
kompor minyak dalam
proses canting ternyata
memboroskan para
pengusaha. Belum lagi, asap
dan dampak lainnya dapat
mengganggu kesehatan
pekerja.
“ Kita memperkenalkan
penggunaan kompor listrik.
Jika dengan menggunakan
kompor minyak, bisa
berapa liter penggunaan
minyak yang dihabiskan.
Namun penggunaan kompor
ini dengan listrik yang
rendah dapat menghemat
pengeluaran. Tetapi
infrastruktur listrik pasti
dilakukan oleh pihak-pihak
terkait,
” tandasnya.
Dalam program kerja sama
Perkumpulan Ekonomi
Indonesia-Jerman
(EKONID) dengan Uni
Eropa ini, setidaknya sudah
60 industri kecil menengah
yang ikut dalam program
ini.
“ Tahun ini kami
menargetkan sekira 100
IKM dapat bergabung
dengan kita. Namun, kita
memang tidak bisa
mengubah mindset para
pengusaha ini dalam
sekejap mata,” tuturnya.

(ade)

Posted by Wordmobi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dari Phone Follow Twitter di Sini ☻

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d blogger menyukai ini: