Batu Empedu Sering Dikira Sakit Maag

Gejala penyakit batu empedu mirip sekali dengan maag,yaitu nyeri di sekitar lambung.Karena
itu, tak sedikit penderita
yang merasa sakit maag
dan kerap bolak-balik ke
dokter lalu diberi obat
maag. Tentu saja kondisi
tak kunjung membaik.
Bagaimana membedakan
ke1uhan batu empedu
dengan maag?
Seperti diungkapkan Dr H
Ari Fahrial S, SpPD-KGEH,
MMB, spesialis penyakit
dalam dari RS Cipto
Mangunkusumo, keluhan
bisa serupa karena letak
lambung dan kantong
empedu berdekatan, yakni
di ulu hati. Jika salah satu
organ ini rnengalami
peradangan, rasanya
hampir sama.
“Orang mengira maag dan
kembung, tetapi setelah
beberapa kali pemeriksaan
diketahui ada batu di
kantong atau saluran
empedu,” ungkap Dr Ari.
Untuk membedakan
dengan maag, kita perlu
memerhatikan penjalaran
dan frekuensi nyeri. “Kalau
maag, frekuensi sakit
biasanya pelan-pelan hingga
akhirnya begitu hebat.
Apabila batu empedu,
sakitnya tiba-tiba timbul
dengan sangat dan
kemudian bisa hilang begitu
saja,” tutur dosen di FKUI
ini.
Peradangan pada kantong
dan saluran menimbulkan
nyeri di bawah tulang iga,
sedikit ke kanan. Nyeri itu
berpotensi menjalar hingga
ke pinggang bagian kanan
dan bahu kanan. Apabila
lambung yang meradang,
nyerinya terasa lebih
sedikit ke atas ulu hati dan
ke kiri. “Rasa sakit
biasanya juga terjadi
dalam 2 hingga 4 jam
setelah menyantap
makanan berlemak.
Timbulnya sering kali
antara pukul 21.00 hingga
pukul 06.00,” katanya.
Kecil lebih berbahaya
Batu empedu biasanya
terbentuk di dalam
kantong empedu atau di
saluran empedu dan saluran
hati. Batu ini dapat memicu
radang dan infeksi pada
kantong empedu dan di
saluran lain apabila batu
keluar dari kantong
empedu dan menimbulkan
penyumbatan di saluran
lain.
“Batu empedu berukuran
kecil lebih berbahaya
daripada yang besar. Batu
kecil berpeluang berpindah
tempat atau berkelana ke
tempat lain dan memicu
masalah baru,” ujarnya.
Riset menunjukkan,
penyakit batu empedu di
Asia umumnya disebabkan
infeksi di saluran
pencernaan. Di Barat dipicu
empat faktor risiko, yakni
jenis kelamin wanita, usia di
atas 40 tahun, diet tinggi
lemak, dan masalah
kesuburan.
Di Indonesia, faktor
pencetus infeksi dapat
disebabkan kuman yang
berasal dari makanan.
Infeksi bisa merambat ke
saluran empedu sampai ke
kantong empedu.
“Penyebab paling utama di
Indonesia adalah infeksi di
usus. Infeksi ini menjalar
tanpa terasa menyebabkan
peradangan pada saluran
dan kantong empedu
sehingga cairan yang
berada di kantong empedu
mengendap dan
menimbulkan batu,”
paparnya.
Infeksi tersebut
kebanyakan berupa tifoid
atau tifus. “Kuman tifus
apabila bermuara di
kantong empedu dapat
menyebabkan peradangan
lokal yang tidak dirasakan
pasien, tanpa gejala sakit
ataupun demam,” katanya.
Kebiasaan pasien yang
tidak menghabiskan
penggunaan obat antibiotik
juga dapat memicu
timbulnya batu empedu.
Kuman akan terus berada
di kantong empedu karena
dalam siklus perjalanannya
akan bermuara di kantong
empedu.
“Itu alasannya antibiotik
harus dihabiskan supaya
kuman di kantong empedu
benar-benar habis,”
ujarnya.
Akibat tumpukan lemak
Konsumsi lemak yang
berlebihan akan
menyebabkan penumpukan
di dalam tubuh sehingga
sel-sel hati dipaksa
bekerja keras untuk
menghasilkan cairan
empedu. Cairan empedu
yang berwarna hijau
kecoklatan bertugas dalam
proses penyerapan lemak
dan vitamin A, D, E, dan K.
Cairan empedu penting
dalam proses pencernaan,
terutama lemak.
Cairan empedu disimpan di
kantong empedu yang
terletak di bawah organ
hati. Bentuknya seperti
buah pir dan bisa
menampung 50 ml cairan
empedu. Kantong
sepanjang 7-10 sentimeter
ini terhubung dengan hati
dan usus 12 jari melalui
saluran empedu.
Bila kadar kolesterol dalam
tubuh meningkat dan hati
tak bisa lagi
mengeluarkannya bisa
terbentuk batu empedu.
“Pada orang yang memiliki
bakat kolesterol tinggi, ada
lebih banyak lagi tumpukan
kolesterol, dan sangat bisa
mencetuskan batu
empedu.
Kecenderungannya sampai
30 persen,” ujarnya.
Awalnya kolesterol
mengendap, lalu biasanya
terjadi penebalan dinding
empedu. Selanjutnya akan
terjadi perubahan kimiawi
pada empedu yang disebut
batu empedu.
Batu empedu juga bisa
disebabkan tumpukan
pigmen bilirubin dan garam
kalsium yang membentuk
partikel seperti kristal
padat. Karena itu, cirinya
berbeda. Batu empedu dari
tumpukan kolesterol
berwarna kekuningan dan
tampak mengilap seperti
minyak, sedangkan dari
tumpukan pigmen bilirubin
berwarna hitam tetapi
keras atau berwarna
coklat tua, tetapi rapuh.
Batu empedu dapat
menyebabkan berbagai
masalah apabila masuk ke
saluran pencernaan atau
usus halus. Terkadang batu
juga muncul pada saluran
empedu. Apabila batu ini
terdapat pada kandung
empedu bisa terjadi
peradangan kolestitis akut.
Itu karena adanya pecahan
batu di dalam saluran
empedu yang menimbulkan
rasa sakit berlebihan.
Obat hanya mencegah
Penegakan diagnosis
dilakukan dengan
pemeriksaan USG. Bisa
juga dilakukan foto sinar X
dan pemeriksaan darah di
laboratorium. Perawatan
dengan mengistirahatkan
kantong empedu.
Pengobatan terapi yang
biasa dilakukan adalah
kombinasi obat
Chenodeoxycholic Acid
(CCDA) dan
Ursodeoxicholic Acid
(UDCA).
“Pengobatan terapi
kombinasi CCDA
(mengurangi sintesis
kolesterol) dan UDCA
(mengurangi penyerapan
kolesterol) diharapkan bisa
menyembuhkan batu
empedu tanpa efek
samping,” katanya.
Berdasarkan penelitian,
terapi tersebut hanya bisa
mencegah, tetapi tidak
menghilangkan batu
empedu. Untuk
menghilangkan batu tetap
dperlukan tindakan medis.
Pilihan ada dua, yakni
laparoskopi atau operasi
biasa.
Laparoskopi hanya
menimbulkan bekas seperti
tusukan di perut dan
prosesnya menggunakan
kontrol komputer.
Sebaliknya, operasi bedah
biasa akan menimbulkan
bekas robekan. Intinya,
tindakan medis tersebut
bertujuan mengangkat
kantong empedu.
Konsekuensinya, pasien tak
bisa lagi mengonsumsi
makanan berlemak karena
tidak ada lagi organ yang
memproses lemak di tubuh.

Sumber : Tabloid Gaya

Posted by Wordmobi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dari Phone Follow Twitter di Sini ☻

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d blogger menyukai ini: