Makkah Mean Time, Mengubah Dunia

Jadi ingat komentar dari pendengar radio el shinta malam yang lalu, “mengapa waktu dimulainya shalat lima waktu bisa dipastikan dengan sebuah jam tanpa perlu analisa tinggi.Tapi ketika menentukan hari raya raya,mulai terpecah perhitungan awalnya. Atau memang saat shalat lima waktu itu di hari-hari sebelumnya belum tau kita berada pada posisi hari ke berapa di bulan itu?”.

Di bawah ini ada artikel yang aku copas,sedikit banyak ada hubungannya dengan narasi di atas, mari kita baca bersama🙂
Menjadi satu kebanggaan jika kaum Muslimin di seluruh dunia memiliki rujukan waktu dunia. Saat ini, rujukan itu sedang digagas Arab Saudi. Apa yang dilakukan negeri kerajaan itu bukan tanpa konsekuensi. Bisa jadi negara-negara Barat tidak akan menerimanya karena kebanggaan mereka pada Greenwich Mean Time (GMT) bisa terkubur oleh Standar Waktu Saudi (AST) atau Makkah Mean Time (MMT). “Boleh jadi ini kebanggaan bagi umat Islam tetapi perlu sosialisasi yang masif untuk menghindarkan terjadinya kebingungan berbagai pihak di seluruh dunia, ” ujar Pakar Astronomi ITB, Moedji Raharto. Apalagi, lanjut Moedji, teknologi masih dipegang Barat, sedangkan mayoritas negara-negara Islam termasuk Indonesia, masih menerapkan dua sistem waktu yakni GMT dan sedikit berharap pada AST atau MMT yang belum jelas konsep dan dalil ilmiahnya itu. Apa sudah saatnya umat Islam memiliki sistem waktu sendiri yang bermanfaat untuk ibadah dan kehidupan lainnya? Untuk menggali persoalan ini lebih mendalam, kontributor Sabili Deffy Ruspiyandy mewawancarai Pakar Astronomi ITB Moedji Raharto. Wawancara di lakukan di Gedung Astronomi, Laboratorium Teknik III, Institut Teknologi Bandung, Jumat (27/8/2010). Berikut petikannya: Makkah berambisi “menggusur ” Greenwich Mean Time (GMT) dengan Standar Waktu Saudi (AST) menyusul beroperasinya jam terbesar di dunia yang berada di menara Abraj Al-Bait. Komentar Anda? Bagi saya, jam itu harus berfungsi menambah manfaat bagi umat Islam. Pertama, untuk mencocokan waktu agar sama. Kedua, menjadi pemersatu, setidaknya dalam menentukan shalat lima lima waktu karena jam itu akan mengeluarkan sinar yang berpendar-pendar ketika waktu shalat tiba. Jam itu juga menjadi pertanyaan dunia. Untuk apa dibuat? Apakah hanya sekadar menjadi daya tarik, karena biaya pembuatan dan harganya sangat mahal, perlu perawatan yang juga mahal, dan siapa yang menanggung biaya itu? Jika jam itu akan dijadikan referensi dunia, perlu sosialisasi yang masif. Apakah jam itu akan tetap menjadi jam matahari? Dengan konsep yang tidak diubah tetap 24 jam yang mengacu pada saat matahari berada di titik kulminasi? Atau hanya sekadar menggeser titik ordinat? Kalau hanya sekadar menggeser ordinat, jam tidak memiliki konsep baru kecuali hanya memindahkan ordinat dan konsepnya sama dengan sebelumnya. Karena itu, saya berharap, Arab Saudi membuat arloji yang akan dibagikan kepada seluruh jamaah haji. Obsesi pemerintah Arab Saudi ini tanpa kajian ilmiah? Saya tak tahu persis ada kajian ilmiah atau tidak. Deklarasi GMT saja, perjalanannya terjadi beberapa abad lalu. Ada Konvensi Internasional yang dihadiri sekitar 25 negara yang ternyata juga sangat alot. Karena itu, Arab Saudi tidak hanya melempar gagasan, tapi harus siap dengan konsekuensinya. Ketika Arab Saudi mendeklarasikan diri sebagai Meridian 0, Arab Saudi harus mampu memberikan servis pada negara lain. Konsepnya harus jelas, harus memberikan implikasi yang jelas juga, karena penentuan waktu akan digunakan pada hampir semua aspek kehidupan di dunia, mulai dari perangkat komputer, mesin waktu, perbankan, penerbangan, navigasi, dan semua sistem yang telah mapan beratus tahun. Jika ada dasar ilmiahnya, apa dasar ilmiah dari gagasan Arab Saudi ini? Sebetulnya, meridian 0 itu ditaruh dimana saja tak ada masalah. Yang jadi masalah adalah sistem itu seperti jam tangan atau penunjuk waktu. Seting pemindahan waktunya di mana saja tidak jadi masalah. Yang jadi masalah, sekarang ini budaya manusia di seluruh dunia sudah mengacu pada GMT. Jika kita menggunakan MMT, apakah sistem perbankan, sistem penerbangan, sistem komputer, dan lainnya di Arab Saudi serta negara Islam juga akan menyesuaikan? Apakah waktu untuk komunikasi juga disesuaikan dengan MMT? Padahal, teknologi dikuasai Barat. Apakah Barat bersedia mengubah itu? Jika tak memiliki dasar ilmiah yang memadai kenapa Arab Saudi berambisi mengubah GMT menjadi AST atau MMT? Pada dasarnya, apa yang dilakukan Arab Saudi hanya untuk menarik perhatian dunia. Mau tak mau dunia akan terhentak dengan pembangunan gedung megah, jam raksasa, dan sebagainya. Tapi setidaknya, pembangunan ini bisa menjadi simbol umat Islam yang peduli dengan waktu. Karenanya, simbol itu harus dijaga secara konsisten. Perawatannya juga tak mudah. Operasional pasti memerlukan biaya yang juga besar. Fenomena ini juga bisa menjadi pemicu agar kaum Muslimin memikirkan konsep waktu yang sesuai untuk keperluan ibadah umat Islam. Sejauh ini, yang dilakukan Arab Saudi hanya sekadar transformasi linear pergeseran koordinat meridian 0° (Nol Derajad) dari Kota Greenwich ke arah “kanan” (Kabah di Kota Makkah) sejauh 40 satuan derajat (+40° Bujur Timur Greenwich) pada bidang proyeksi Mercalor? Memang, jika dilihat jamnya tetap jam matahari. Saya belum tahu persis operasionalnya seperti apa, tapi jika sama seperti jam matahari yang digunakan oleh sistem GMT, maka yang terjadi hanya sekadar menggeser meridian GMT sedikit saja. Karena posisi Kabah berada di 39 derajat 50 menit, maka Waktu Makkah mengacu pada meridian 45 derajat, atau sekitar tiga jam di sebelah timur Greenwich. Artinya, memang hanya pergeseran linear saja menjadi tiga jam lebih cepat dari GMT. Tapi bisa tidak dimanfaatkan secara fundamental sebagai patokan waktu shalat, penentuan Ramadhan, dan hari-hari besar Islam? Yang jelas, konsep waktu yang ada pada jam matahari yang umum digunakan saat ini juga bisa digunakan untuk menentukan waktu Shalat. Sehingga, jam raksasa milik Arab Saudi itu bisa dilihat sebagai jam besar untuk mengontrol waktu shalat. Jam raksasa ini bisa menjadi informasi tunggal yang benar untuk wilayah tertentu. Apakah jam itu akan menjadi pusat penentuan waktu dan hari-hari besar Islam? Harus ada langkah lain yang perlu dilakukan. Sistem penanggalan Islam juga harus disepakati, bersamaan dengan sistem rukyat dan hilal. Jadi perlu persetujuan tentang kriteria yang digunakan untuk sistem penanggalan yang ada di dunia. Dalam konteks ini, Arab Saudi bisa menjadi satu referensi, misalnya bisa menanyakan pada rekan- rekan yang sedang umrah, hari apa di sana? Tapi harus disepakati secara internasional sehingga yang lain bisa mengikuti dengan segala konsekuensinya. Kita sama-sama menggunakan al- Quran dan hadist yang sama tapi penerjemahannya terkadang beda. Penggunaan kalender matahari dan kalender bulan juga terkadang menimbulkan perbedaan. Jika dipilih salah satunya harus disepakati. Ini harus dipahami oleh kaum Muslimin, agar tidak ada perbedaan lagi saat memulai awal Ramadhan atau saat menentukan Shalat Idul Fitri. Ilmuwan Pusat Penelitian Nasional Mesir, Abdul Basyit menemukan fakta bahwa tidak ada gaya magnet di Makkah? Medan magnet dengan rotasi bumi sebenarnya adalah dua hal yang berbeda untuk menentukan waktu. Sumbu medan magnet dan rotasi perbedaannya sekitar 11 derajat. Jam matahari yang digunakan saat ini, mengacu pada rotasi planet bumi. Rotasi inilah yang dominan dibanding madan magnet. JIka Makkah mempunyai medan magnet yang lebih kuat dibanding daerah lain atau Makkah merupakan daerah yang istimewa, ini tidak diragukan karena memang ada di sana. Artinya, Makkah sebagai ikon atau simbol khas umat Islam. Cendekiawan Muslim Dr Yusuf Qardawi mengatakan, “Sejak lama dunia Islam meyakini Makkah lebih tepat ditetapkan sebagai poros bumi. Pasalnya, Makkah adalah meridian utama karena berada di “titik keselarasan magnetis (utara) sempurna ” bumi. Makkah adalah zona nol magnet. ” Apakah pernyataan ini akan menguatkan posisi AST/MMT? Saya belum mempunyai hasil kajian secara ilmiah tentang itu. Bagi saya, apapun yang ada, Makkah, Ka ’bah, dan segala yang unik di kota itu sudah cukup menjadi daya tarik yang luar biasa. Jika kemudian ada tambahan pernyataan dari Yusuf Qaradhawi saya rasa itu akan menjadi tambahan yang akan memperkuat posisi Makkah sebagai pusat peradaban umat manusia sejak dulu, hari ini, dan masa yang akan datang. Ada yang berpendapat, umat Islam terkecoh oleh sistem GMT yang didasarkan pada rotasi bumi, sehingga perlu ditata ulang? Secara konsep waktu, sejak dulu umat manusia menggunakan waktu yang didasarkan pada rotasi bumi yakni perputaran bumi pada porosnya. Dalam skala detik, rotasi bumi memang bisa menimbulkan ketidakteraturan atau gangguan. Sehaingga, secara ilmiah sistem waktu saat ini dianggap kurang stabil. Karenanya, secara ilmiah perlu definisi yang lain yaitu jam atom yang dekat dengan definisi awal yang dasarnya rotasi bumi. Ini menjadi fondasi yang sangat penting untuk sistem waktu yang dibangun sekarang. Jika Standar Waktu Saudi (AST) diterapkan di seluruh dunia atau di dunia Islam, perubahan mendasar apa yang harus ditata ulang? Kita harus menggeser pergantian hari ke arah timur. Jika tetap mengikuti kaidah Meridian 180 derajat sebagai patokan dari perubahan hari, maka tinggal menggeser ke arah timur. Di sinilah, masalah utama yang perlu dijelaskan oleh Arab Saudi. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh sistem waktu yang ditetapkan Arab Saudi itu? Ini harus dijelaskan secara detail dan transparan lepada dunia.

Data Pribadi: Nama : Moedji Raharto
Tgl/Lahir : Blitar, 8 November 1954
Pendidikan : Bachelor: di Institut Teknologi Bandung (1980), DSc: The University of Tokyo Japan (1996)
Jabatan :Kepala Observatory Bosscha ITB Astronomy Dept ID Lembang, Jawa Barat, Asisten Profesor Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IITB. Penelitian : Galactic structure Survey of M Supergiant stars

Posted by Wordmobi

2 Responses to Makkah Mean Time, Mengubah Dunia

  1. Company profile mengatakan:

    semoga bisa tercapai.. amin.

  2. anangnurcahyo mengatakan:

    kalo nunggu bangsa barat ridlo ya ga bakal jadi tu…
    lanjutkan!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dari Phone Follow Twitter di Sini ☻

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d blogger menyukai ini: