Nabi Ibrahim ‘Alaihi Sallam yang tak gentar “dihukum” oleh pemuka-pemuka kaum

01sunimages_160_80.jpg

Nabi Ibrahim adalah putera
Aaazar {Tarih} bin Tahur bin
Saruj bin Rau ’ bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin
Arfakhsyad bin Saam bin Nuh
A.S. Ia dilahirkan di sebuah
tempat bernama “Faddam A’ram ” dalam kerajaan “Babylon ” yang pd waktu itu diperintah oleh seorang raja
bernama “Namrud bin Kan ’aan. ” Kerajaan Babylon pd masa itu
termasuk kerajaan yang
makmur rakyat hidup senang,
sejahtera dalam keadaan
serba cukup sandang maupun
pandangan serta sarana- sarana yang menjadi
keperluan pertumbuhan
jasmani mrk.Akan tetapi
tingkatan hidup rohani mrk
masih berada di tingkat
jahiliyah. Mrk tidak mengenal Tuhan Pencipta mrk yang
telah mengaruniakan mrk
dengan segala kenikmatan
dan kebahagiaan duniawi.
Persembahan mrk adalah
patung-patung yang mrk pahat sendiri dari batu-batu
atau terbuat dari lumpur dan
tanah. Raja mereka Namrud bin
Kan ’aan menjalankan tampuk pemerintahnya dengan
tangan besi dan kekuasaan
mutlak.Semua kehendaknya
harus terlaksana dan segala
perintahnya merupakan
undang-undang yang tidak dpt dilanggar atau di tawar.
Kekuasaan yang besar yang
berada di tangannya itu dan
kemewahan hidup yang
berlebuh-lebihan yang ia
nikmati lama-kelamaan menjadikan ia tidak puas
dengan kedudukannya sebagai
raja. Ia merasakan dirinya
patut disembah oleh
rakyatnya sebagai tuhan. Ia
berfikir jika rakyatnya mau dan rela menyembah patung-
patung yang terbina dari batu
yang tidak dpt memberi
manfaat dan mendtgkan
kebahagiaan bagi mrk,
mengapa bukan dialah yang disembah sebagai tuhan. Dia
yang dpt berbicara, dapat
mendengar, dpt berfikir, dpt
memimpin mrk, membawa
kemakmuran bagi mrk dan
melepaskan dari kesengsaraan dan kesusahan.
Dia yang dpt mengubah orang
miskin menjadi kaya dan
orang yang hina-dina
diangkatnya menjadi orang
mulia. di samping itu semuanya, ia adalah raja yang
berkuasa dan memiliki negara
yang besar dan luas. Di tengah-tengah masyarakat
yang sedemikian buruknya
lahir dan dibesarkanlah Nabi
Ibrahim dari seorang ayah
yang bekerja sebagai
pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calun Rasul
dan pesuruh Allah yang akan
membawa pelita kebenaran
kepada kaumnya,jauh-jauh
telah diilhami akal sihat dan
fikiran tajam serta kesedaran bahwa apa yang
telah diperbuat oleh kaumnya
termasuk ayahnya sendiri
adalah perbuat yang sesat
yang menandakan kebodohan
dan kecetekan fikiran dan bahwa persembahan kaumnya
kepada patung-patung itu
adalah perbuatan mungkar
yang harus dibanteras dan
diperangi agar mrk kembali
kepada persembahan yang benar ialah persembahan
kepada Tuhan Yang Maha
Esa,Tuhan pencipta alam
semesta ini. Semasa remajanya Nabi
Ibrahim sering disuruh
ayahnya keliling kota
menjajakan patung-patung
buatannya namun karena iman
dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan
kepadanya ia tidak
bersemangat untuk
menjajakan brg-brg itu
bahkan secara mengejek ia
menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun pembeli
dengan kata-kata: ” Siapakah yang akan membeli patung-
patung yang tidak berguna
ini?”

Nabi Ibrahim Ingin Melihat
Bagaimana Makhluk Yang
Sudah
Mati Dihidupkan Kembali Oleh
Allah. Nabi Ibrahim yang sudah
berketetapan hati hendak
memerangi syirik dan
persembahan berhala yang
berlaku dalam masyarakat
kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan
keyakinannya,
menenteramkan
hatinya serta
membersihkannya dari
keragu-raguan yang mungkin sesekali mangganggu
fikirannya dengan memohon
kepada Allah agar
diperlihatkan kepadanya
bagaimana Dia menghidupkan
kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.Berserulah ia
kepada Allah: ” Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku
bagaimana engkau
menghidupkan makhluk-
makhluk yang sudah
mati. ”Allah menjawab seruannya dengan
berfirman:Tidakkah engkau
beriman dan percaya kepada
kekuasaan-Ku? “Nabi Ibrahim menjawab: ” Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman
dan percaya kepada-Mu dan
kepada kekuasaan-Mu, namun
aku ingin sekali melihat itu
dengan mata kepala ku
sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan
ketenangan hatiku dan
agar makin menjadi tebal dan
kukuh keyakinanku kepada-Mu
dan kepada kekuasaan-Mu. ” Allah memperkenankan
permohonan Nabi Ibrahim lalu
diperintahkanlah ia
menangkap empat ekor
burung lalu setelah
memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung
itu, memotongnya menjadi
berkeping-keping
mencampur-baurkan
kemudian tubuh burung yang
sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu
diletakkan di atas puncak
setiap bukit dari empat bukit
yang letaknya berjauhan satu
dari yang lain.
Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah
itu, diperintahnyalah Nabi
Ibrahim memanggil burung-
burung yang sudah terkoyak-
koyak tubuhnya dan terpisah
jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang
lain. Dengan izin Allah dan kuasa-
Nya datanglah berterbangan
empat ekor burung itu dalam
keadaan utuh bernyawa
seperti sedia kala begitu
mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim
kepadanya lalu hinggaplah
empat burung yang hidup
kembali itu di depannya,
dilihat dengan mata kepalanya
sendiri bagaimana Allah YAng Maha Berkuasa dpt
menghidupkan kembali
makhluk-Nya yang sudah mati
sebagaimana Dia
menciptakannya dari sesuatu
yang tidak ada . Dan dengan demikian tercapailah apa yang
diinginkan oleh Nabi Ibrahim
untuk mententeramkan
hatinya dan menghilangkan
kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya,
bahwa kekuasaan dan
kehendak Allah tidak ada sesuatupun di langit atau di
bumi yang dpt menghalangi
atau menentangnya dan
hanya kata “Kun ” yang difirmankan Oleh-Nya maka
terjadilah akan apa yang
dikenhendaki ” Fayakun ”. Nabi Ibrahim Berdakwah
Kepada Ayah Kandungnya Aazar, ayah Nabi Ibrahim
tidak terkecuali sebagaimana
kaumnya yang lain, bertuhan
dan menyembah berhala bah
ia adalah pedagang dari
patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan
darinya orang membeli
patung-patung yang dijadikan
persembahan.
Nabi Ibrahim merasa bahwa
kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum
berdakwah kepada orang lain
ialah menyedarkan ayah
kandungnya dulu orang yang
terdekat kepadanya bahwa
kepercayaan dan persembahannya kepada
berhala-berhala itu adalah
perbuatan yang sesat dan
bodoh.Beliau merasakan
bahawa kebaktian kepada
ayahnya mewajibkannya memberi penerangan
kepadanya agar melepaskan
kepercayaan yang sesat itu
dan mengikutinya beriman
kepada Allah Yang Maha
Kuasa. Dengan sikap yang sopan dan
adab yang patut ditunjukkan
oleh seorang anak terhadap
orang tuanya dan dengan
kata-kata yang halus ia dtg
kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia
diutuskan oleh Allah sebagai
nabi dan rasul dan bahawa ia
telah diilhamkan dengan
pengetahuan dan ilmu yang
tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya
dengan lemah lembut
gerangan apakah yang
mendorongnya untuk
menyembah berhala seperti
lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-
berhala itu tidak berguna
sedikit pun tidak dpt
mendtgkan keuntungan bagi
penyembahnya atau
mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula
kepada ayahnya bahwa
penyembahan kepada
berhala-berhala itu adalah
semata-mata ajaran syaitan
yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam
diturunkan ke bumi lagi. Ia
berseru kepada ayahnya agar
merenungkan dan memikirkan
nasihat dan ajakannya
berpaling dari berhala- berhala dan kembali
menyembah kepada Allah
yang menciptakan manusia
dan semua makhluk yang
dihidupkan memberi mrk
rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi
dengan segala isinya kepada
manusia. Aazar menjadi merah
mukanya dan melotot
matanya mendengar kata-
kata seruan puteranya Nabi
Ibrahim yang ditanggapinya
sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahwa
puteranya telah berani
mengecam dan menghina
kepercayaan ayahnya bahkan
mengajakkannya untuk
meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan
dan agama yang ia bawa. Ia
tidak menyembunyikan murka
dan marahnya tetapi
dinyatakannya dalam kata-
kata yang kasar dan dalam maki namun seakan-akan
tidak ada hunbungan diantara mereka. IA berkata kepada
Nabi Ibrahim dengan nada
gusar: ” Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari
kepercayaan dan
persembahanku ? Dan
kepercayaan apakah yang
engkau berikan kepadaku
yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah
engkau membangkitkan
amarahku dan coba mendurhakaiku. Jika engkau
tidak menghentikan
penyelewenganmu dari agama
ayahmu tidak engkau hentikan
usahamu mengecam dan
memburuk-burukkan persembahanku, maka
keluarlah engkau dari rumahku
ini. Aku tidak sudi bercampur
denganmu didalam suatu
rumah di bawah suatu atap.
Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu
dengan batu dan
mencelakakan engkau. ” Nabi Ibrahim menerima
kemarahan ayahnya,
pengusirannya dan kata-kata
kasarnya dengan sikap
tenang, normal selaku anak
terhadap ayah seraya berkata: ” Oh ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap
memohonkan ampun bagimu
dari Allah dan akan tinggalkan
kamu dengan persembahan
selain kepada Allah. Mudah-
mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang
dengan doaku utkmu. ” Lalu keluarlah Nabi Ibrahim
meninggalkan rumah ayahnya
dalam keadaan sedih dan
prihatin karena tidak berhasil
mengangkatkan ayahnya dari
lembah syirik dan kufur. Nabi Ibrahim Menghancurkan
Berhala-berhala Kegagalan Nabi Ibrahim
dalam usahanya menyedarkan
ayahnya yang tersesat itu
sangat menusuk hatinya
karena ia sebagai putera yang
baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan
yang benar terangkat dari
lembah kesesatan dan syirik
namun ia sedar bahwa hidayah
itu adalah di tangan Allah dan
bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya
mendpt hidayah ,bila belum
dikehendaki oleh Allah maka
sia-sialah keinginan dan
usahanya.
Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang
kasar dan kejam itu tidak
sedikit pun mempengaruhi
ketetapan hatinya dan
melemahkan semangatnya
untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya
untuk menyapu bersih
persembahan-persembahan
yang bathil dan kepercayaan-
kepercayaan yang
bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan
Rasul-Nya Nabi Ibrahim tidak henti-
henti dalam setiap
kesempatan mengajak
kaumnya berdialog dan
bermujadalah tentang
kepercayaan yang mrk anut dan ajaran yang ia bawa. Dan
ternyata bahwa bila mrk
sudah tidak berdaya menilak
dan menyanggah alasan-
alasan dan dalil-dalil yang
dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran
ajarannya dan kebathilan
kepercayaan mrk maka dalil
dan alasan yang usanglah yang
mrk kemukakan iaitu bahwa
mrk hanya meneruskan apa yang oleh bapa-bapa dan
nenek moyang mrk dilakukan
dan sesekali mrk tidak akan
melepaskan kepercayaan dan
agama yang telah mrk warisi. Nabi Ibrahim pd akhirnya
merasa tidak bermanfaat lagi
berdebat dan bermujadalah
dengan kaumnya yang
berkepala batu dan yang
tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti
nyata yang dikemukakan oleh
beliau dan selalu berpegang
pada satu-satunya alasan
bahwa mrk tidak akan
menyimpang dari cara persembahan nenek moyang
mrk, walaupun oleh Nabi
Ibrahim dinyatakan berkali-
kali bahwa mrk dan bapa-
bapa mrk keliru dan tersesat
mengikuti jejak syaitan dan iblis.
Nabi Ibrahim kemudian
merancang akan membuktikan
kepada kaumnya dengan
perbuatan yang nyata yang
dapat mrk lihat dengan mata kepala mrk sendiri bahwa
berhala-berhala dan patung-
patung mrk betul-betul tidak
berguna bagi mrk dan bahkan
tidak dapat menyelamatkan
dirinya sendiri. Adalah sudah menjadi tradisi
dan kebiasaan penduduk
kerajaan Babylon bahwa
setiap tahun mrk keluar kota
beramai-ramai pd suatu hari
raya yang mrk anggap sebagai keramat. Berhari-
hari mrk tinggal di luar kota di
suatu padang terbuka,
berkemah dengan membawa
bekalan makanan dan
minuman yang cukup. Mrk bersuka ria dan bersenang-
senang sambil meninggalkan
kota-kota mrk kosong dan
sunyi. Mrk berseru dan
mengajak semua penduduk
agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai –
ramai menghormati hari-hari
suci itu. Nabi Ibrahim yang
juga turut diajak turut serta
berlagak berpura-pura sakit
dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mrk merasa
khuatir bahwa penyakit Nabi
Ibrahim yang dibuat-buat itu
akan menular dan menjalar di
kalangan mrk bila ia turut
serta. ” Inilah dia kesempatan yang ku nantikan, ” kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota
sudah kosong dari
penduduknya, sunyi senyap
tidak terdengar kecuali suara
burung-burung yang berkicau,
suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin
kencang. Dengan membawa
sebuah kapak ditangannya ia
pergi menuju tempat
beribadatan kaumnya yang
sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan
hanya deretan patung-patung
yang terlihat di serambi
tempat peribadatan itu.
Sambil menunjuk kepada
semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di
setiap kaki patung berkata
Nabi Ibrahim, mengejek: ” Mengapa kamu tidak makan
makanan yang lazat yang
disajikan bagi kamu ini?
Jawablah aku dan berkata-
katalah kamu. ”Kemudian disepak, ditamparlah patung-
patung itu dan
dihancurkannya berpotong-
potong dengan kapak yang
berada di tangannya. Patung
yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang
pada lehernya dikalungkanlah
kapak Nabi Ibrahim itu. Terperanjat dan terkejutlah
para penduduk, tatkala pulang
dari berpesta ria di luar kota
dan melihat keadaan patung-
patung, tuhan-tuhan mrk
hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan
terserak-serak di atas lantai.
Bertanyalah satu kepada yang
lain dengan nada hairan dan
takjub: “Gerangan siapakah yang telah berani melakukan
perbuatan yang jahat da n
keji ini terhadap tuhan-tuhan
persembahan mrk ini ?” Berkata salah seorang
diantara mrk: ” Ada kemungkinan bahwa orang
yang selalu mengolok-olok dan
mengejek persembahan kami
yang bernama Ibrahim itulah
yang melakukan perbuatan
yang berani ini. ” Seorang yang lain menambah keterangan
dengan berkata: ” Bahkan dialah yang pasti berbuat,
karena ia adalah satu-satunya
orang yang tinggal di kota
sewaktu kami semua berada di
luar merayakan hari suci dan
keramat itu. ” Selidik punya selidik, akhirnya terdpt
kepastian yang tidak
diragukan lagi bahwa
Ibrahimlah yang merusakkan
dan memusnahkan patung-
patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan
kejadian yang dianggap suatu
kejadian atau penghinaan
yang tidak dpt diampuni
terhadap kepercayaan dan
persembahan mrk. Suara marah, jengkel dan kutukan
terdengar dari segala
penjuru, yang menuntut agar
si pelaku diminta
bertanggungjawab dalam
suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk
kota dapat turut serta
menyaksikannya. Dan memang itulah yang
diharapkan oleh Nabi Ibrahim
agar pengadilannya dilakukan
secara terbuka di mana semua
warga masyarakat dapat
turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian
beliau dapat secara
terselubung berdakwah
menyerang kepercayaan mrk
yang bathil dan sesat itu,
seraya menerangkan kebenaran agama dan
kepercayaan yang ia bawa,
kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan
terbuka hatinya bagi iman
dari tauhid yang ia ajarkan
dan dakwahkan.
Hari pengadilan ditentukan
dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung
mengujungi padang terbuka
yang disediakan bagi sidang
pengadilan itu. Ketika Nabi Ibrahim datang
menghadap para hakim yang
akan mengadili ia disambut
oleh para hadirin dengan
teriakan kutukan dan
cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah
berhala terhadap beliau yang
telah berani menghancurkan
persembahan mrk.
Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh
para hakim: ” Apakah engkau yang melakukan penghancuran
dan merusakkan tuhan-tuhan
kami ?” Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim
menjawab: ” Patung besar yang berkalungkan kapak di
lehernya itulah yang
melakukannya. Coba tanya saja kepada patung-patung
itu siapakah yang
menghancurkannya. ” Para hakim penanya terdiam
sejenak seraya melihat yang
satu kepada yang lain dan
berbisik-bisik, seakan-akan
Ibrahim yang mengandung ejekan itu. Kemudian berkata si hakim: ” Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu
tidak dapat bercakap dan
berkata mengapa engkau
minta kami bertanya
kepadanya ?” Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh
Nabi Ibrahim,maka sebagai
jawaban atas pertanyaan
yang terakhir itu beliau
berpidato membentangkan
kebathilan persembahan mrk,yang mrk pertahankan
mati-matian, semata-mata
hanya karena adat itu adalah
warisan nenek-moyang.
Berkata Nabi Ibrahim kepada
para hakim itu: ” Jika demikian halnya, mengapa kamu
sembah patung-patung itu,
yang tidak dapat berkata,
tidak dapat melihat dan tidak
dapat mendengar, tidak dapat
membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan
tidak dapat menolong dirinya
dari kehancuran dan
kebinasaan? Alangkah
bodohnya kamu dengan
kepercayaan dan persembahan kamu itu!
Tidakkah dapat kamu berfikir
dengan akal yang sihat bahwa
persembahan kamu adalah
perbuatan yang keliru yang
hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak
menyembah Tuhan yang
menciptakan kamu,
menciptakan alam sekeliling
kamu dan menguasakan kamu
di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina
dinanya kamu dengan
persembahan kamu itu. ” Setelah selesai Nabi Ibrahim
menguraikan pidatonya itu,
para hakim mencetuskan
keputusan bahawa Nabi
Ibrahim harus dibakar hidup-
hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan
menghancurkan tuhan-tuhan
mrk, maka berserulah para
hakim kepada rakyat yang
hadir menyaksikan pengadilan
itu: ” Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu , jika kamu
benar-benar setia
kepadanya. ” Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-
hidup Keputusan mahkamah telah
dijatuhakan.Nabi Ibrahim
harus dihukum dengan
membakar hidup-hidup dalam
api yang besar sebesar dosa
yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara
pembakaran yang akan
disaksikan oleh seluruh rakyat
sedang diaturkan. Tanah
lapang bagi tempat
pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu
bakar dengan banyaknya
dimana tiap penduduk secara
gotong-royong harus
mengambil bahagian
membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat
sebagai tanda bakti kepada
tuhan-tuhan persembahan
mrk yang telah dihancurkan
oleh Nabi Ibrahim. Berduyun-duyunlah para
penduduk dari segala penjuru
kota membawa kayu bakar
sebagai sumbangan dan tanda
bakti kepada tuhan mrk. Di
antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang
sakit yang membawa
sumbangan kayu bakarnya
dengan harapan memperoleh
barakah dari tuhan-tuhan
mereka dengan menyembuhkan penyakit
mereka atau melindungi yang
hamil di kala ia bersalin.
Setelah terkumpul kayu bakar
di lanpangan yang disediakan
untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun
laksana sebuah bukit,
berduyun-duyunlah orang
datang untuk menyaksikan
pelaksanaan hukuman atas
diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah
gunung berapi yang dahsyat
yang sedang berterbangan di
atasnya berjatuhan terbakar
oleh panasnya uap yang
ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian
dalam keadaan terbelenggu,
Nabi Ibrahim didtgkan dan
dari atas sebuah gedung yang
tinggi dilemparkanlah ia
kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan
iringan firman Allah: ” Hai api, menjadilah engkau dingin dan
keselamatan bagi Ibrahim. ” Sejak keputusan hukuman
dijatuhkan sampai saat ia
dilemparkan ke dalam bukit
api yang menyala-nyala itu,
Nabi Ibrahim tetap
menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan
keyakinannya bahwa Allah
tidak akan rela melepaskan
hamba pesuruhnya menjadi
makanan api dan kurban
keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang
demikianlah apa yang terjadi
tatkala ia berada dalam perut
bukit api yang dahsyat itu ia
merasa dingin sesuai dengan
seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai
yang mengikat tangan dan
kakinya yang terbakar
hangus, sedang tubuh dan
pakaian yang terlekat pada
tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api,
hal mana merupakan suatu
mukjizat yang diberikan oleh
Allah kepada hamba
pilihan-Nya, Nabi Ibrahim,
agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang
ditugaskan kepadanya kepada
hamba-hamba Allah yang
tersesat itu. Para penonton upacara
pembakaran heran
tercenggang tatkala melihat
Nabi Ibrahim keluar dari
bukit api yang sudah padam
dan menjadi abu itu dalam keadaan selamat, utuh dengan
pakaiannya yang tetap
seperti biasa, tidak ada tanda-tanda sentuhan api
sedikit jua pun. Mereka
bersurai meninggalkan
lapangan dalam keadaan
hairan seraya bertanya-
tanya pada diri sendiri dan di antara satu sama lain
bagaimana hal yang ajaib itu
berlaku, padahal menurut
anggapan mereka dosa Nabi
Ibrahim sudah nyata
mendurhakai tuhan-tuhan yang mereka puja dan
sembah.Ada sebahagian drpda
mrk yang dalam hati kecilnya
mulai meragui kebenaran
agama mrk namun tidak
berani melahirkan rasa ragu- ragunya itu kepada orang lain,
sedang para pemuka dan para
pemimpin mrk merasa kecewa
dan malu, karena hukuman
yang mrk jatuhkan ke atas
diri Nabi Ibrahim dan kesibukan rakyat
mengumpulkan kayu bakar
selama berminggu-minggu
telah berakhir dengan
kegagalan, sehingga mrk
merasa malu kepada Nabi Ibrahim dan para
pengikutnya. Mukjizat yang diberikan oleh
Allah Subhanahu Wa Ta’ala. kepada Nabi
Ibrahim sebagai bukti nyata
akan kebenaran dakwahnya,
telah menimbulkan
kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian
penduduk terhadap
persembahan dan patung-
patung mrk dan membuka
mata hati banyak drp mrk
untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan
dakwahnya, bahkan tidak
kurang dari mrk yang ingin
menyatakan imannya kepada
Nabi Ibrahim, namun khuatir
akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat
kemarahan dan balas dendam
para pemuka dan para
pembesarnya yang mungkin
akan menjadi hilang akal bila
merasakan bahwa pengaruhnya telah beralih ke
pihak Nabi Ibrahim.

setelah membaca artikel ini,kami mohon klik salah satu tombol berikut ini ya.. untuk di share ke akun facebook, twitter atau link share lainnya,terimakasih

Posted by symbian60 3rd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Dari Phone Follow Twitter di Sini ☻

Error: Please make sure the Twitter account is public.

%d blogger menyukai ini: